World CupBrazil -- Japan17:00World CupGermany -- Paraguay20:30World CupNetherlands -- Morocco01:00World CupIvory Coast -- Norway17:00World CupFrance -- Sweden21:00World CupMexico -- Ecuador01:00World CupEngland -- Congo DR16:00World CupBelgium -- Senegal20:00World CupUSA -- Bosnia & Herzegovina00:00World CupSpain -- Austria19:00World CupPortugal -- Croatia23:00World CupSwitzerland -- Algeria03:00World CupAustralia -- Egypt18:00World CupArgentina -- Cape Verde Islands22:00World CupBrazil -- Japan17:00World CupGermany -- Paraguay20:30World CupNetherlands -- Morocco01:00World CupIvory Coast -- Norway17:00World CupFrance -- Sweden21:00World CupMexico -- Ecuador01:00World CupEngland -- Congo DR16:00World CupBelgium -- Senegal20:00World CupUSA -- Bosnia & Herzegovina00:00World CupSpain -- Austria19:00World CupPortugal -- Croatia23:00World CupSwitzerland -- Algeria03:00World CupAustralia -- Egypt18:00World CupArgentina -- Cape Verde Islands22:00
Kembali ke berita
Sepak Bola

Mengapa Matheus Cunha menjadi pusat Brasil asuhan Ancelotti

Lucas Leiva menilai peran penyerang hibrida Matheus Cunha membantu Brasil menemukan keseimbangan di bawah Carlo Ancelotti, dengan tim yang beradaptasi secara taktis setelah fase grup.

Mengapa Matheus Cunha menjadi pusat Brasil asuhan Ancelotti
Kredit gambar: bbc.co.uk

Matheus Cunha telah menjadi bagian penting dari serangan Brasil di bawah Carlo Ancelotti, menurut analisis Lucas Leiva untuk BBC Sport. Cunha sudah mencetak tiga gol di turnamen ini dan dipakai sebagai penyerang tengah yang fleksibel, yang bisa menyelesaikan peluang sekaligus menghubungkan permainan.

Alih-alih berperan sebagai nomor sembilan yang statis, Cunha turun ke area yang lebih dalam dan memaksa bek membuat keputusan yang sulit. Pergerakan itu bisa membuka ruang bagi Vinicius Jr dan Rayan, sekaligus memberi Cunha ruang untuk menerima bola di antara lini jika lawan tetap bertahan di posisinya.

Leiva juga menyoroti perubahan yang lebih luas dari Ancelotti menuju pendekatan yang adaptif. Brasil sudah bergeser dari formasi 4-2-3-1 ke 4-3-3, dengan Casemiro mendapat dukungan lebih besar di lini tengah dari Bruno Guimaraes dan Lucas Paqueta, sementara para bek sayap mengambil peran yang lebih tertahan dibanding banyak tim Brasil di masa lalu.

Gambaran ini cukup menjanjikan, tetapi masih berkembang. Brasil sejauh ini mencetak tujuh gol dan hanya kebobolan sekali, namun Jepang digambarkan sebagai ujian serangan yang lebih cair di babak 32 besar, sehingga laga berikutnya akan menjadi ukuran penting apakah Brasil yang lebih pragmatis ini bisa terus melaju.

Sumber & hak cipta

Artikel ini tidak menyalin sumber mana pun secara utuh. Disusun dari fakta publik dan kerja redaksi; tautan asli milik penulisnya.

Sumber publik

Artikel ini mungkin menggunakan AI untuk ringkasan, terjemahan, atau bantuan SEO, dan ditinjau oleh editor sebelum diterbitkan.

Diskusi

    Bacaan terkait

    Berita
    Giroud: Kepemimpinan Van Dijk tetap jadi kunci harapan Belanda di Piala Dunia
    Redaksi2 mnt
    Berita
    Hong Myung-Bo mundur setelah Korea Selatan tersingkir dari Piala Dunia
    Redaksi1 mnt
    Berita
    Gol telat Kanada mengubah kemenangan knockout pertama menjadi momen bersejarah
    Redaksi1 mnt
    Berita
    Haaland, bukan Messi, tampak sebagai ketergantungan tim nasional yang paling jelas
    Redaksi2 mnt